Pembinaan Anak-anak Salman ITB

Poligami, Kodrat Rasulullah saw

Posted by pasitb on May 8, 2007

Kemarin, saya menghadiri sebuah pengajian di rumah seorang teman. Pembicaranya seorang ustad muda, karena saya telat datang, saya tidak tahu siapa dia.
Berhubung mengisi pengajian diantara ibu-ibu, ustad tersebut mengutip kembali tentang poligami.
Segala alasan diutarakan, membela dan membangun simpati kaum ibu. Tapi ada sesuatu yang tidak baik, minimal menurut saya, atau tepatnya berpotensi salah paham.

Katanya begini, “Tahukah ibu-ibu, dalam suatu riwayat, Rasulullah pernah mengilir sembilan istrinya dalam satu hari. Dapat ibu-ibu bayangkan kekuatan fisik Rasullah. Sudahkah setiap malam beliau melaksanakan tahajud, beliau mampu melakukan hal itu. Maka jika suami ingin poligami, sudahkah dia seperti Rasullah?”
Saya langsung menginterupsi, “Maaf, mohon hati-hati mengutip sosok Rasulullah. Terlepas benar atau tidak cerita menggilir sembilan istri dalam satu hari itu, itu akan membuat persepsi Rasulullah adalah seorang lelaki berlibido tinggi. Itu akan menjadi fitnah”
Pastinya ustad langsung berpanjang lebar membela diri dan saya sudah tidak mau mendengarkan lagi. Yang penting saya sudah mengoreksi.

Lalu setelah merasa cukup membela diri, ustad tesebut mengutip kembali sesuatu yang berpotensi salah paham, ketika salah seorang ibu mengatakan bahwa Rasulullah sendiri secara hati tidak mampu adil terhadap istri-istrinya.
Ustad mengutip kisah Hafsa, putri Umar yang marah dan mengumpat ketika Rasulullah bersama Maria al Kibtiya berada di kediaman Hafsa.
Kata ustad begini, “Ibu-ibu, ketika Hafsa mengadukan kecemburuan dan kemarahannya yang penuh umpatan atas Rasulullah saw kepada Umar, Umar malah marah kepada Hafsa, katanya ‘Hafsa, kalau bukan karena aku ayahmu, Rasulullah tentu tidak akan menikahimu. Karena sesungguhnya Rasulullah tidak mencintaimu’. Lihat ibu-ibu, Rasulullah itu tidak cinta pada Hafsa, tapi menikahinya dan berusaha adil kepada semua istri-istrinya”.
Ini juga berpotensi salah paham, pernikahan Rasulullah saw bukan masalah cinta atau tidak cinta. terhadap sosok Umar. Seorang Umar dengan kesholehan yang luar biasa, tentu dibalik karakternya yang keras, punya pendekatan yang baik untuk Hafsa putrinya.

Dan benar saja, ketika ustad bertanya, “Jadi ibu-ibu, kalau ibu-ibu ini masih gadis semua, tentu mau kan dinikahi oleh Rasulullah?”
Seorang ibu di ujung menjawab, “Tidak ah, sudah tidak dicinta, dipoligami lagi”.

Banyak buku bercerita tentang sosok dan kehidupan Rasulullah saw beserta sahabat. Banyak persepsi tentang semua perihal yang terjadi dan dilakoni Rasulullah saw.
Tapi untuk menyelami sosok Rasululah saw maka kita juga harus mau menyelami diri kita sendiri.
Dalam tulisan ini, mari kita menyelaminya bersama-sama.

Kalau kita bertanya pada diri kita, tentang poligami Rasulullah. Maka maukah kita jujur bahwa kita pun akan sulit untuk adil meski secara materi kita mampu. Rasulullah saw pun dalam Qur’an dikatakan begitu. (QS 4:3)
Tapi mengapa Rasulullah saw melakukan poligami?
Atau tentang perang, mari kita mengukur dengan diri kita.
Kalau Rasulullah saw digambarkan sebagai seorang yang welas asih, maka kalau kita jujur pada perasaan kita, tentunya tidak akan tega seorang Rasulullah saw membunuh dan melihat manusia terbunuh. Qur’an pun sampai menjaminkan hal ini. (QS 4:92-94)
Tapi mengapa Rasulullah saw mengangkat pedang dan berperang?

Pada saat kita jujur pada diri kita sendiri, maka kita akan menemukan bahwa sebagai manusia seperti kita, Rasulullah saw itu sudah melampaui kefana-annya.
Cinta dan ketaatan Rasulullah saw kepada Allah, telah melampaui keduniaan dan kebendaannya, juga ketakutannya sebagai manusia.

Manusia yang telah melampaui kefana-an dan kebendaannya, melakukan makan, minum, menikah dan keseluruhan hidupnya hanyalah untuk memenuhi kodratnya. Suratan takdirnya.
Maka jika Rasulullah saw melakukan poligami, berperang dsb, itu karena untuk memenuhi kodratnya, memenuhi fungsinya sebagai Rasulullah, utusan Allah dimuka bumi.
Ini mengapa Rasulullah saw menjadi manusia yang paling banyak beristighfar, berpuasa dan sholat malam. Tak lain dan tak bukan adalah untuk mengendalikan dirinya dalam mengemban amanah Allah.
Walau sesekali, Rasulullah saw pun kalah dan ditegur Allah, seperti ketika berselimut dan bermuka masam. (QS 73 dan QS 80)

Mari kita teliti.
Qur’an, kitab suci apapun dan setiap nabi, memberikan petunjuk dan melakukan koreksi untuk zaman ketika kitab dan nabi itu diturunkan. Petunjuk dan koreksi untuk rentang masa di antara satu nabi dan kitab sebelumnya ke nabi dan kitab berikutnya. Walau tidak semua nabi membawakan kitab suci, tapi tetap untuk memberi petunjuk dan koreksi untuk rentang waktu antara satu nabi dan nabi lainnya.
Dalam konteks Rasulullah saw, rentang masa itu adalah antara beliau dengan nabi Isa a.s.
Banyak penyimpangan kehidupan yang terjadi waktu itu yang harus diluruskan, contohnya sbb :

  • Pada masa itu berkembang kehidupan kerahiban yang tidak memperbolehkan nikah, maka Rasulullah saw menikah dan menjadikan nikah sebagai sunnah beliau untuk memperbaiki kehidupan dengan pesan bahwa kebutuhan biologis itu adalah fitroh.
  • Kala itu juga, penguasa atau raja malah memiliki istri banyak sekali dan mengeksploitasi wanita, maka Rasulullah saw sebagai ‘penguasa’ melakukan poligami dengan pembatasan. Dan didalamnya juga banyak pesan strategis dari setiap wanita yang dinikahi beliau, ini banyak kita temui di buku-buku.
  • Berperang untuk memperebutkan wilayah waktu itu sering terjadi, maka Rasulullah pun melakukan perang. Tapi ditujukan lebih untuk membela diri dan melindungi komunitas Islam dari tekanan pihak asing. Disetiap perangnya pun terdapat banyak pesan Allah untuk kita.

Dan masih banyak lagi yang dilakukan untuk menjalankan kodratnya.

Karenanya, menyelami sosok Rasulullah saw tidak bisa sebatas tekstual yang kita baca di banyak buku. Kita harus mau masuk ke dalam diri kita, mengeksplorasi rasa kita untuk menemukan kehalusan rasa seorang Rasulullah saw, sang penutup para nabi.
Dengan begitu maka kita akan bisa memahami kehidupan Rasulullah saw utuh tidak sebatas tekstual. Yang kedepannya dapat membuat kita lebih hati-hati mengutip sosok beliau untuk disampaikan kepada khalayak ramai agar tidak berpotensi menimbulkan salah paham.

Begitu pula dengan sosok Umar bin Khattab, sebagai seorang sahabat terbaik Rasulullah, tentunya dikehalusan rasa seorang Umar, Umar tidak akan mengatakan seperti itu pada Hafsa. Mengetahui jika dikatakan sesungguhnya Rasulullah saw tidak mencintainya, sebagai wanita tentu akan menyakitkan hati Hafsa.
Seorang Umar memang marah ketika Hafsa dalam emosinya mengumpat Rasulullah saw, tapi dengan halusnya juga akan mengajak Hafsa untuk memahami kodratnya Rasulullah saw.
Maka menjadi bagian dari kodrat Rasulullah saw itu adalah keindahan yang tiada tara. Menjadi bagian dari kehidupan Rasulullah saw adalah berkah dan rahmat Allah yang tak terkira.
Tentu dengan pendekatan seperti ini, seorang Hafsa akan dapat mengerti bahwa poligami Rasulullah saw adalah bagian dari kodrat dan refleksi kecintaan Rasulullah saw kepada Allah juga kodrat Hafsa sendiri. Yang mana ketika Hafsa jujur, tentu itu sulit sekali baik bagi dirinya dan Rasulullah saw sendiri. Tapi ketaatan dan kecintaan kepada Allah swt lah yang membuat keduanya mampu menjalaninya.

Semoga dangan pengenalan dan pemahaman yang utuh antara rasa dan teks ini, akan membuat kita mampu menyelami dan menyampaikan sosok Rasulullah saw dan sahabat dengan lebih baik dan jauh dari fitnah.
Pendekatan tesebut juga akan menolong kita ketika menarik kehidupan Rasulullah dalam konteks kekinian kita. Membantu meneladani beliau dalam kehidupan keseharian kita.

Kembali ke masalah poligami, akhirnya poligami bukanlah masalah sunnah atau tidak, boleh atau tidak, mampu atau tidak. Tapi, kodrat atau tidak?
Untuk mengerti kodrat kita, kuncinya adalah kejujuran pada diri sendiri.
Sering-sering menengok dan bertanya pada hati kita, meninggalkan nafsu dan syahwat kita juga melewati kefanaan dan kebendaan kita.
Kemudian apapun jawaban yang kita temukan, pemenuhan kodrat ini pun harus disesuaikan dengan syariat Islam yang baik dan benar.
Inilah yang sebaiknya menjadi jawaban tentang poligami, dari pada terjerat oleh pembelaan-pembelaan dan polemik yang tak ada habisnya.

Kenali dirimu maka kau mengenali tuhanmu, dengan begitu kamu akan mengerti sekitarmu.
Carilah cahaya dan petunjukNya dalam hati kita.

“ Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan Cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas Cahaya (berlapis-lapis), Allah Membimbing kepada Cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat Perumpamaan – perumpamaan bagi manusia, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”
(QS 24:35)

Semoga tulisan ini bermanfaat.
anis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: