Pembinaan Anak-anak Salman ITB

Dari Editor Hingga Distributor: Menjelajah 70 Triliun Kemungkinan untuk Membangkitkan Gen-Gen Positif*

Posted by pasitb on May 1, 2007

Anda ada di dunia ini

karena kebetulan Anda terpilih

dari 70 triliun kemungkinan yang berbeda.

Itu menunjukkan betapa istimewanya Anda.

Kazuo Murakami, Ph.D

dalam The Divine Message of the DNA: Tuhan dalam Gen Kita
1. It’s Multiple Intelligences!!!

Mengawali sebuah tulisan tentang bagaimana meng-upgrade diri menjadi lebih baik seperti tema acara hari ini, ternyata tidak gampang. Terjebak dalam anggapan bahwa tulisan saya harus mewakili akumulasi bacaan yang selama ini diperoleh melalui buku-buku self-help dan motivasi, spontanitas untuk menulis lepas serasa mendapat hambatan.

Dalam deadline yang mendesak, saya mencoba menulis tulisan personal tentang perjalanan pengalaman pendidikan dan karier saya yang saya kaitkan dengan teori kecerdasan ganda (multiple intelligences) Howard Gardner. Teori ini pertama kali saya baca dalam buku Menerapkan Multiple Intelligences di Sekolah (Thomas Amstrong). Kebetulan, ketika membuat tulisan ini, saya juga sedang membaca The Divine Message of DNA: Tuhan dalam Gen Kita, karya Kazuo Murakami, yang isinya menekankan tentang pentingnya berpikir positif untuk membangkitkan gen-gen terbaik dalam tubuh kita.

Sepanjang ingatan masa kecil saya, cita-cita selalu terkait dengan harapan ingin menjadi dokter, pramugari, insinyur, bankir, guru, dsb. Padahal, dalam kenyataan, banyak jenis pekerjaan yang mungkin tidak pernah masuk dalam kamus cita-cita anak-anak. Dalam dunia musik, berkarier bukan cuma jadi penyanyi, tapi juga penulis lagu, dirigen oskestra, penari latar, hingga penata cahaya panggung. Ada juga karier di bidang kuliner, desainer (web, interior, sampul buku/majalah/kaset), penata rambut, penerjemah, editor, pembicara motivasi, distributor, atlit, dan karier di pelbagai bidang usaha (travel, properti, laundry, hotel, hingga pengusaha MCK portable).

Jenis pekerjaan di atas lahir dari beragam jenis kecerdasan yang ditunjukkan Howard Gardner: kecerdasan linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetis-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal. Sayangnya, dunia pendidikan di Indonesia secara umum, hanya menitikberatkan satu kecerdasan saja, yaitu kecerdasan matematis-logis, pada diri anak didik dan orangtua.

Nah, saya termasuk didikan era tahun 80-an yang hidup dalam paradigma bahwa kuliah di jurusan sains dan logika (termasuk kedokteran) adalah sebuah prestise dan menjadi kunci menuju kesuksesan. Minat yang tinggi pada musik, dunia baca-tulis, serta organisasi sama sekali tidak membuat saya mempertimbangkan jurusan-jurusan sosial dalam pilihan untuk kuliah.

Dalam cara pikir yang demikianlah saya memutuskan untuk masuk ITB. Sebuah keputusan yang pada tahun-tahun berikutnya saya sesali, karena ternyata romantisme keindahan dan misteri alam yang saya baca lewat penuturan astronom wanita pertama Indonesia, Karlina Leksono, pupus dalam kerumitan memecahkan persamaan-persamaan mekanika kuantum, fisika modern, dan kosmologi, yang sama sekali tidak mengasyikkan saya.

Akhirnya, dalam kejenuhan karena dicecoki ilmu-ilmu fisika dan matematika yang demikian rigid itu, saya mencoba mengembangkan minat lain dalam kegiatan ekskul di luar kuliah. Minat yang tinggi pada organisasi dan bahasa Inggris membuat saya terpilih menjadi Presiden SEF wanita pertama di ITB. Kesukaan pada musik, membawa saya menjadi pemain keyboard/piano PADVOCA PAS-ITB. Kegiatan di luar yang sangat menyita waktu ini, membawa konsekuensi pada nilai-nilai kuliah yang semakin tidak menjanjikan untuk berkarier di bidang astronomi.

Di akhir tahun kuliah, kesempatan menjadi penerjemah buku-buku berbahasa Inggris, memberikan keasyikan baru dan semakin mengasah kecerdasan di bidang bahasa, dan semakin mengubur cita-cita awal menjadi astronom. Potensi yang sudah dimiliki sejak dini di bidang bahasa ini ternyata ketika mendapat lingkungan yang mendukung ( penerbitan), semakin mengkristalisasi (seperti Tukul aja J). Untunglah di saat yang kritis ini, saya tetap dapat menyelesaikan kuliah walaupun mungkin dengan alasan klise, ”menyelesaikan” tanggung jawab pada orangtua.
II. Lingkungan dan Kesempatan yang Mendukung

Awal karier sebagai editor di penerbitan membuat saya akrab dengan industri buku dan penerbitan di dalam dan luar negeri. Dan ini ternyata, membuka potensi-potensi lain. Keterampilan teknis di bidang editorial dan minat pada manajemen penerbitan, mengantarkan saya menjadi pimpinan. Alih-alih mengurusi hal-hal teknis yang terkait dengan editing sebuah buku, tanggung jawab sebagai pimpinan membuat saya harus memiliki keterampilan mekanis atau keterampilan mengolah sistem untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dalam persaingan industri buku yang ketat.

Mulailah era ketika saya “dipaksa” untuk belajar hal-hal mikro dalam perusahaan seperti kompetensi SDM, performance keuangan, diferensiasi dan positioning penerbit ini dalam industri buku di Indonesia, maupun hal-hal makro seperti keadaan ekonomi Indonesia, fluktuasi kurs (karena buku terjemahan membayar royalti dalam dolar), hingga harga minyak (yang mempengaruhi ongkos kirim).

Sekali lagi, muncul kecerdasan yang mungkin tidak pernah terasah sebelumnya dan mungkin karena tidak pernah mendapat wadah sebelumnya. Tuntutan sebagai pimpinan perusahaan membuat saya harus belajar lebih dalam tentang manajemen dan financial report perusahaan—yang ternyata sangat saya minati.

Dalam situasi itu, saya mengajukan aplikasi untuk belajar Manajemen Business Administration (MBA) di luar negeri dengan spesialisasi bidang General Manajemen. Syukurlah saya menyelesaikan S1, karena ijazah ini menjadi tiket masuk untuk meneruskan kuliah di bidang master.

Sekali lagi, lingkungan kuliah memberikan katalisator untuk membangkitkan kecerdasan lain dalam diri saya. Walaupun saya mengambil spesialisasi di bidang manajemen, mata kuliah finance yang wajib saya ambil pada 2 (dua) semester pertama kuliah, membukakan kecerdasan saya yang lain. Entah karena latar belakang sains dan matematika di ITB, atau karena isi kuliah ini memang menarik, atau karena pengaruh keduanya, saya merasa lebih ”tune-in” untuk meneruskan spesialisasi di bidang finance daripada meneruskan di bidang general manajemen yang saya rasa semakin menyiksa saking banyaknya literatur yang dibaca dan paper yang harus dibuat.

Saya yang awalnya mendaftar sebagai siswa MBA dengan spesialisasi di jurusan General Managemen, keluar sebagai lulusan MBA dengan spesialisasi di bidang Finance. Dulu, pada masa S1, kuliah di astronomi, tapi lulus sebagai editor. Dunia memang penuh kejutan!!!J.

Melihat minat saya pada bidang finance ini, saya kerap bertanya apakah mungkin kalau lingkungan masa pendidikan menengah dulu mendukung saya memilih bidang finance, karier dan kehidupan saya akan berjalan seperti ini? Wallahualam.

Kembali ke Indonesia, saya ditawari posisi sebagai pimpinan distribusi untuk seluruh Indonesia yang lebih banyak mengasah kemampuan di bidang manajemen, marketing, dan, tentu saja, finance. Sejauh ini, tampaknya bidang distribusi ini menjadi akumulasi dari seluruh pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman saya.

Apa pesan yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini? Bahwa diri kita menyimpan begitu banyak begitu potensi kecerdasan. Berikan peluang bagi kecerdasan-kecerdasan itu untuk berkembang. Jangan sampai ada anggapan : ”dia pinter nyanyi, tapi ndak cerdas di sekolah”. Atau, ”Bulutangkisnya yahud, sayang, ndak pinter matematika.” Seolah-olah menyanyi atau bermain bulutangkis bukanlah sebuah kecerdasan.

Seperti tulisan Kazuo dalam pembuka tulisan ini, setiap orang unik, dan dia lahir dari 70 triliun kemungkinan—jadi dia memiliki 70 triliun kemungkinan untuk menjadi apa saja. Bagaimana kita bisa membangkit gen-gen positif dalam diri kita untuk meraih kesuksesan hidup? Kembali saya kutip pesan-pesan dari Kazuo Murakami:

    1. Positive thinking akan membangkitkan gen-gen bermanfaat
    2. Selalu peka dan terinspirasi akan membuat anda awet muda dan panjang umur
    3. Informasi baru dapat mengubah gen Anda
    4. Niat baik akan memberi efek positif pada gen
    5. Dan banyak lagi rahasi tentang pikiran dan gen Anda yang saya tidak ungkap di sini supaya Anda baca langsung bukunya J.

Selamat berkarier! [k sari]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: